Browsed by
Tag: Strategy

Create Your Gap

Create Your Gap

Masih ingat waktu saya bilang innovation is playing catch up? Mungkin tanpa bagian “innovation”-nya. Tapi memang seperti itulah yang terjadi sekarang. Untuk menelurkan inovasi yang benar-benar menggebrak kita harus riset lama atau membuka simpanan beberapa tahun lalu.

Moodmill waktu itu punya twist ukuran emosi jika dibanding Twitter. Bahkan bisa menempelkan URL. Foursquare dan Gowalla ternyata tak jauh beda. Dibandingkan dengan Koprol, ketiganya juga bermain data lokasi. So, what makes each of them worthwhile?

It’s about creating gaps.

Unggul berarti selangkah di depan dibanding yang lain. Kalau sekarang semua hanya punya fitur checkin, kita bisa menambah gap dengan fitur shout. Kalau semua bisa shout, kita buat gap dengan poin dan badge. Kalau semua bisa melayani pembayaran lewat transfer bank, kita bisa selangkah di depan dengan melayani kartu kredit. Jika yang lain belum punya Blackberry app, maka kita harus membuat Blackberry App. (Koprol will have a real one, next week — finger crossed — which will make us leave Foursquare)

Semakin besar gap yang kita buat, semakin lama pula waktu yang diperlukan kompetitor untuk menyusul kita. Semakin tinggi pula probabilitas kita untuk meningkatkan sales dan mendapatkan profit.

How to create gap?

Di sinilah keyword “pick your fight” harus dicamkan. Pertama, pertarungan tidak wajib dijalani dalam bentuk serial. Bersaing jumlah quota email bukanlah strategi yang bagus karena kapasitas storage bisa disusul dengan mudah. Pindah saja ke jalur lain dan jadikan persaingan tersebut paralel tanpa banyak berpengaruh satu sama lain.

The secret is make the most of our resource. Pilih pemakaian result yang bisa menciptakan gap terlebar dan paling susah disusul. Kalau kita punya modal, beli perangkat terbaik di bidangnya. Kalau otak kita brilian, buat produk keren dengan resep rahasia.

SITTI (sittibelajar.com), berusaha membuat gap dengan menghadirkan adsense versi lokal yang bisa bekerja optimal dengan bahasa Indonesia. Teknologinya memang sangat menarik, namun sebenarnya tak akan susah disusul oleh Google. Google sudah bisa memberikan rekomendasi topik dari query yang kita buat. Belum lagi ada fitur Data Prediction API yang membuat siapa saja bisa menggunakan pustaka ini untuk membuat produk sepintar itu. Nonetheless, Google juga perlu waktu untuk masuk ke Indonesia. Google juga perlu waktu untuk belajar bahasa Indonesia. Dan bisa jadi pasar Indonesia belum terlalu seimbang dengan investasi yang harus dikucurkan. This is the gap!

The Message

Ada satu lagi cerita menarik yang bisa dipakai untuk memilih pertarungan. Bagaimana ilmuwan Amerika dan Rusia menemukan alat tulis yang mampu dipakai di dalam air? Amerika memulai dengan riset lab yang akhirnya membuahkan alat tulis canggih. Sedangkan pihak rusia memilih pensil sebagai solusinya. Get what I mean?

So, tak perlu terlalu khawatir dengan the big guys. Cara pandang atas masalah antara yang besar dan kecil pasti beda. Think creative, pick your fight, and create your gap!

Tiga Ancaman Bagi Startups

Tiga Ancaman Bagi Startups

Ancaman

Hawa “kelaparan” dari startup sudah mulai terasa. Satu persatu sudah tampak lebih percaya diri dan punya tekad untuk memulai. Semua tampak bagus, dan jalan di depan tampak menjanjikan. Tapi semuanya punya masalah dalam tiga hal.

Exposure

Bagus sih, stay hungry stay foolish. Tapi kalau maju dengan modal teknologi saja tanpa “ilmu” manajemen, marketing dll bisa juga berakhir dengan kematian 3 bulan kemudian. Salah satu faktor utama bagi startup untuk bisa maju atau sekedar bertahan adalah kesempatan mendapatkan perhatian. Dengan adanya sorotan berarti ada kesempatan bagi startup baru untuk merespon dan berinteraksi dengan penggunanya. Jika masih ada pengguna, kesempatan untuk bertahan hidup masih terbuka. Saya yakin kita semua masih banyak yang berteriak “Hei! Lihatlah aku, lihat saja dulu.”

Funding

Biasanya poin ini jadi kambing hitam bagi semua startup. Bahkan sebelum memulai pun, para founder mungkin akan memaki-maki soal funding. Wajar saja, setiap usaha pasti memerlukan biaya. Entah investasi dalam bentuk waktu, tenaga ataupun semangat. Tak semua orang punya kesempatan untuk terjun fulltime ke startup, entah karena kurang persiapan atau memang kesempatan tersebut belum datang. Hei, tak satu pun dari kita pernah bercita-bercita jadi founder bukan?

Funding ibarat dewa penolong untuk mempertahankan tenaga dan semangat, sementara startup kita berusaha menemukan model bisnis yang cocok untuk memroduksi revenue. Atau sekedar bertahan lebih lama sampai balance sheet berubah menjadi positif. Biasanya funding diakali dengan subsidi silang. Namun tetap saja ada batasan sehingga seorang founder hanya punya beberapa kali kesempatan mencoba memperbaiki business plan atau mencoba membuat startup baru di bidang lain.

Infrastruktur

Untuk poin yang ini saya yakin Anda akan merasa hopeless. Yang punya kemampuan mengurus dan mewujudkan mimpi kita tentang infrastruktur yang kondusif hanyalah perusahaan super besar dan pemerintah. Biasanya kita lebih cenderung berpaling ke pemerintah karena kita merasa memang sudah sepantasnya pemerintah memperhatikan kebutuhan kita. Tapi kalau sudah berbicara tentang pemerintah, kita jadi apatis.

Kalau beberapa tahun yang lalu, rasa apatis ini rasanya masih valid. Tapi semakin ke depan, banyak di antara kita yang akan menduduki posisi penting di pemerintahan. Bahkan, saat ini beberapa teman atau teman dari teman kita sudah banyak yang punya akses ke posisi penting di pemerintahan.

Jadi, walau tak mudah, kata @ivanlanin, jangan apatis. Jarak kita ke akses tersebut hanya sejauh 6 jabat tangan.

Jadi bagaimana rencana kita untuk menyembuhkan tiga penyakit ini? Mungkin kita ikut pepatah saja, yang notebene sudah berhasil dibuktikan banyak orang. Think big act small, think global act local, one step at a time atau yang saya lebih suka: do what makes sense.

Apa yang masuk akal? Yang masuk akal adalah jika kita tidak berusaha mengatasinya bersama maka nobody gets out alive. Satu atau dua mungkin akan beruntung bisa mengatasi dua di antara penyakit di atas, dengan usaha sendiri. Namun, tanpa tapi ekosistem yang bagus — yang berarti semuanya ambil bagian — satu dan dua itu tak akan bertahan lama. Satu atau dua tak akan mampu membuat pasar menjadi matang. Perlu lebih dari satu Blackberry dan harus ditambah Cumiberry untuk membuat tren mobile lifestyle jadi nyata.

Masing-masing dari kita berdiri pada posisi yang berbeda. Yang masuk akal adalah, kita semua harus melangkah ke arah yang sama. Tidak perlu dalam barisan yang sama, hanya perlu menuju titik yang sama.

Anda siap melangkah bersama? NavinoT akan mengawali satu langkah. Tunggu tanggal mainnya!

PS:

Gosipnya, yang saya dengar di Barcamp kemarin, membuat manifest (kesepakatan) untuk para startup sudah menjadi urgensi. Beberapa orang sudah berada pada halaman yang sama tentang manfaat manifest ini: menyamakan arah.

PPS:

Saya pernah baca di Twitter bahwa gosip adalah fakta yang tertunda.

PPPS:

Thanks to @rampok, @andyzain, @aulia, @dwirianto, @ivanlanin, dll di Barcamp kemarin yang jadi sumber inspirasi artikel ini.

Lebih Baik Berkelompok

Lebih Baik Berkelompok

Fish Swarm

If you cannot beat them, join them. Kalau memang bersaing itu susah, kenapa tidak bergabung saja. Dengan bergabung, pasar yang sebelumnya diperebutkan bisa tinggal dibagi, dan dipanen bersama. Apa lagi manfaat berkolaborasi bagi startup lokal?

Partner in crime

Salah satu keuntungan berkelompok tentu saja penggabungan dan pelengkapan sumber daya. Dalam konteks startup, pelengkapan yang terjadi adalah soal informasi dan pematangan pasar. Dalam hal informasi startup bisa bertukar pengalaman(walau mungkin tak semua dibagi) dan bekerja sama menyikapi suatu perkembangan situasi. Dalam hal pematangan pasar, kelompok startup berperan dalam usaha bersama mengedukasi konsumen dan calon konsumen sebagai target pemasaran.

Pertukaran informasi dan pematangan pasar adalah subjek crime yang jadi gol dari kelompok startup.

Appeal

Jualan satu makan dan gang makanan tentu lebih menarik gang makanan. Value yang ditawarkan pun menjadi lebih besar dalam pandangan kosumen. Konsumen saat ini lebih suka jika ada banyak pilihan. Apalagi untuk suatu barang yang tergolong baru dan belum punya pemimpin pasar. Adanya alternatif, apalagi dalam satu tempat, membuat konsumen semakin yakin untuk membeli. Komparasi adalah tahap terakhir berupa validasi dalam membenarkan pembelian.

Dalam konteks startup, app market dan startup directory bisa jadi salah satu fasilitas dalam membentuk appeal.

Set the pace

Kalau kita berada di luar gerombolan biasanya kita cenderung santai. Kita tak pernah punya urusan apa yang dilakukan tetangga. Tak peduli mereka sudah mulai tren memakai topi fedora, kita masih berkutat dengan tren lama.

Beda saat kita berada dalam suatu grup, apapun yang terjadi di dalam grup kita mau tak mau akan berpengaruh terhadap langkah-langkah yang akan kita ambil. Dalam suatu kelompok pasti akan ada kompetisi yang selalu akan memberikan standar pencapaian baru bagi setiap anggotanya.

Mungkin saat ini masih banyak startup yang mengandalkan membeli server sendiri dan mengesampingkan alternatif virtualisasi baik lewat AWS atau layanan lain. Namun jika ada salah satu anggota kelompok yang berani memulai tren virtualisasi maka kemungkinan besar yang lain tak akan segan mencoba. Apalagi jika informarsi mengenai penghematan dan strategi lain dibagi di antara sesama anggota kelompok. Singkat kata, apabila salah satu telah maju maka yang lain juga mau tak mau akan ikut maju. Yang dibutuhkan hanya seorang pemberani.

Rasanya akan sangat keren jika startup yang ada ini saling berkolaborasi dalam suatu rencana besar. Setidaknya ceritanya bsia dipakai untuk membuka mata pengguna internet di Indonesia dan mungkin (jika kita beruntung) lirikan para investor dan pemegang kebijakan.

Tentu saja, tidak semua rencana bisa diakomodasi. Prosesnya mirip mencari partner of crime. Mungkin langsung ditemukan pada usaha pertama, namun bisa juga harus melewati sejumlah kegagalan sebelum bertemu jodohnya. But hey, kita semua sudah tahu tidak ada yang tak berguna dari sebuah kegagalan.

Okay boys and gals, what’s your plan?

I Like It Quick

I Like It Quick

what to do?

Ada beberapa strategi yang dipakai produsen film dalam membuat dan memasarkan film yang dibuat. Beberapa membuat film lepas, atau trilogi. Beberapa membuat serial, baik pendek atau yang panjang.

Menurut Anda, mana yang lebih efektif antara serial pendek dan serial panjang?

Better die famous than fade away

Kata-kata terakhir Kurt Cobain ini ada benarnya. Cara membuat orang mengingat produk Anda adalah dengan jalan membuat kisah terbaik lalu mengakhirinya begitu saja. Jangan memberikan kesempatan pada produk untuk berlama-lama di pasar mengeruk profit sampai ke rupiah terakhir. Jangan sampai produk tersebut dinyatakan tak berguna dan tak meninggalkan bekas yang memorable.

Apa yang bisa Anda ingat dari sinetron Tersanjung? Apakah Anda akan menunggu sinetron lain dari rumah produksi yang sama? Beberapa mungkin menjawab tak masalah, namun sekian banyak sisanya mungkin akan menjadi ragu-ragu. Ragu-ragu apakah sinetron baru hanya sekedar jadi usaha murahan yang akhirnya membuat kita kecewa.

There’s an app for that

Ada produk untuk setiap segmen market, demi optimasi profit. Membuat serial yang pendek memberikan kesempatan pada produsen untuk mencoba banyak hal. Tidak hanya terjebak dalam satu ceruk saja, namun bisa mengeksplorasi ceruk-ceruk lain dan memahami karakteristiknya.

Dengan pengetahuan luas tentang pasar, profit hanya soal di mana dan kapan.

No pain no gain

Membuat serial pendek mirip gambling atau sangat berisiko. Jika berhasil maka kita Anda mendapatkan banyak yang kita inginkan. Namun jika gagal, kita akan jatuh dengan sangat cepat.

Untungnya, sudah terbukti bahwa kegagalan adalah jalan tercepat menuju kesuksesan.

Nah, sekarang siapa yang sudah bosan dengan Heroes dan True Blood? Ada yang kangen dengan dorama berdurasi 12 episode?

PS:

Oh ya, sudah vote NavinoT untuk Pesta Blogger Award belum?

Mengamati Pergeseran Strategi Yahoo!

Mengamati Pergeseran Strategi Yahoo!

yahoostrategy

Yahoo! adalah salah satu perusahaan raksasa di industri teknologi, terutama web dan internet. Dari awal mulanya yang berupa layanan mesin pencari, kini Yahoo! telah melebarkan sayapnya ke bisnis lainnya, terutama media online.

Namun dalam perjalanannya, Yahoo! tidak selalu mulus. Bahkan sejak Google semakin sukses dengan advertising platform AdSense & Adwords, revenue Yahoo! yang juga mengandalkan advertising banyak tergerus oleh kehadiran Google.

Read More Read More

What People Want?

What People Want?

Clear Vision
Zooloo.com, bagi saya tampak seperti Friendster on steroid. Lifestream sedang merajalela tapi Zooloo malah balik ke jaman Friendster. UI-nya sangat mengingatkan kita akan Friendster walaupun fitur agregasi stream dan kemudahan mengkustomisasi tema tampilan adalah hal yang tidak dipunyai Friendster.

G.ho.st – another desktop inside web (web OS). Do we really want it? How useful it is? Kenapa lagi-lagi memindahkan konsep desktop ke dalam web tanpa perubahan apapun? Single sign on should be sufficient. Don’t load what you don’t need (email client dalam web OS). Browser speed is scarce, why waste it?

Supaya laku, harusnya kita membangun sesuatu yang diinginkan orang. Antara lain:

  • Something they need. Tiap orang inginn kebutuhannya terpenuhi. Oleh karena itu makan, minum dan tempat tinggal akan selalu laku. Kadang kala orang juga butuh berkomunikasi jarak jauh. Dunia bisnis apalagi, komunikasi jarak jauh yang murah akan bsia menghemat biaya komunikasi. Skype cerdas. Long distance call was never cheap until skype come.
  • Something fun: games, movies,music. Tiap orang menginginkan kesenangan. Game yang bisa mendatangkan kesenangan adalah hal yang diinginkan orang. Mulai dari game flash kecil sampai dengan game konsol berdana besar.
  • Something to make other things easier to achieve. Ini contoh terdahsyat :D. Kita tentunya setuju bahwa membangun startup itu susah. Kita perlu modal dan kita harus tahu ilmunya. Bagaimana jika hal ini bisa dipermudah atau difasilitasi? Apa mungkin? Y Combinator, didirikan oleh Paul Graham karena ia ingin memudahkan pembangunan startup. Y Combinator adalah perusahaan yang menciptakan perusahaan. Apakah Y Combinator laku atau mendapat laba? Well, ternyata banyak investor yang bersedia menanam dana untuk startup yang difasilitasi Y Combinator. Dengan seed $6000 per founder, tiap startup bisa menghasilkan nilai investasi dan akuisisi puluhan ribu dolar. I call that profit.

Apakah segala sesuatu yang kita tawarkan harus bermanfaat? Tidak perlu, tidak harus saat itu juga. Jika layanan Anda cukup keren maka orang akan mencari-cari kegunaan layanan Anda di luar definisi yang telah Anda tetapkan. Contoh:

Twitter – It is cool and simple. It wasn’t really useful until people exploit it.Tidak sekedar menjadi alat komunikasi dengan keluarga dan teman, kini menjadi tempat nongkrong global untuk networking, berbagi resource, dan beraktivitas bersama-sama.

Friendfeed – It’s cool, it aggregates stuff and you can comment on it. People make it really useful by commenting and sharing all over the place. Apakah berguna? Bagi beberapa orang iya, tapi tidak bagi Mr. Arrington.

Keinginan saya? Make something for the future. Tren yang sekarang pasti akan ditinggalkan. Jika anda membuat layanan untuk tren masa depan, maka semakin anda berjalan semakin terang jalan Anda. Perhatikan apa yang akan berubah di masa depan, dan pastikan layanan Anda bisa memanfaatkan atau mengeksplotasinya.

Kefasihan di e-commerce? Internet gratis? Apakah Anda siap mengeksplotasinya? KrazyMarket mungkin melihat hal ini. I mean, siapa yang hari ini masih bandel memaksakan diri membangun pasar e-commerce di Indonesia? Masa e-commerce akan datang, dan jika masa itu datang pemain senior yang telah menunggu lama akan segera melesat. Dan kita tak akan sempat mengejarnya.

E-Paper: Digitalisasi Media Cetak

E-Paper: Digitalisasi Media Cetak

Dead Sea Newpaper

E-paper tak akan jadi bahasan seru jika bukan karena pilihan Kompas untuk memakai Silverlight dalam rangka mengoverhaul layanan edisi digitalnya. Let’s skip flamewar and trolling ’til next day. Kali ini mari kita ngobrol tentang esensi e-paper itu sendiri terlepas dari platform implementasinya.

Jadi apa sih sebenarnya manfaat e-paper? Kenapa semua media tiba-tiba menawarkan e-paper. Sekedar mengikuti trend tetangga atau karena ada alasan khusus?

Ada hal cukup penting ternyata saya lewatkan sampai saat ini. Ternyata, selain menyasar pembaca koran, e-paper juga punya manfaat bagi advertiser. Manfaat terbesarnya bukan pada peningkatan impresi iklan, namun justru pada fungsi monitoring. E-paper meng-enhance transaksi antara media dan advertiser. Media bisa lebih mudah memberikan bukti transaksi pemasangan iklan pada advertiser. Mudah-mudahan saya tidak salah mencatat obrolan santai dengan ndorokakung kemarin.

Sedangkan, manfaat bagi pembaca ada bermacam-macam. Salah satu yang terbantu dengan adanya e-paper adalah profesional PR. Media monitoring menjadi lebih efisien karena tidak perlu membuat kliping dari potongan majalah dan koran. Fungsi kliping cukup bisa dilakukan dengan jalan mendownload halaman yang diinginkan. Tentu saja jika platformnya memungkinkan.

Dengan sedikit uraian manfaat e-paper di atas, apa iya e-paper itu cukup dilakukan dengan mengkonversi bentuk tercetak ke bentuk digital?

What is wrong about e-paper?

Ada beberapa hal yang mengganggu pikiran saya. Pihak media tentu saja ingin mempertahankan brand dan segala karakteristik media tersebut dalam format digital. Namun tentu saja media cetak dan digital punya karakteristik yang berbeda. Monitor tentu saja susah menyamai ukuran tinggi dan lebar koran. Membawa lebar dan tinggi koran ke dalam format digital tentu saja bisa menimbulkan ketidaknyamanan bagi pembaca. Bentuk tercetak yang dibatasi oleh jumlah halaman dan dimensi, harus memuat semua berita yang ada hari itu. Bentuknya yang lebar membuat proses pemindaian berita oleh pembaca menjadi lebih mudah. Majalah yang bentuknya lebih kompak, lebih mengandalkan daftar isi untuk menfasilitasi kenyamanan tersebut.

Kualitas media dan design tentu terlihat lebih ciamik dalam format digital, sama persis seperti yang dilihat designer di mesin mac mereka. Namun bagi pembaca edisi digital, konsep layout dikendalikan oleh motivasi yang berbeda. Tujuan akhir layout tidak lagi untuk memenuhi sebanyak mungkin berita dalam satu lembar, namun lebih ke kecepatan pencarian informasi dan kelengkapan informasi. Berpegang pada prinsip yang sama, kita jadi bisa mengerti kenapa Digg, Alltop, Reddit dan lain-lain bisa meraih hati pembaca hanya dengan menyajikan headlines. Mereka bahkan tak memiliki beritanya.

Bagi saya, berita utama adalah berita tentang teknologi. Jika saya bisa mencetak koran sendiri mungkin halaman pertama adalah berita teknologi dari penjuru dunia, halaman kedua berita finansial. Berita tentang politik ditaruh di halaman 15 saja. Sepakbola mungkin saya beri satu kolom di halaman 16. Media cetak punya keterbatasan harus memuaskan semua orang karena hanya 16 halaman itulah yang akan menghubungkannya dengan pembaca. Berbagai macam trade off harus dilakukan demi mencari titik tengah di mana semua orang bisa puas. Walaupun mereka tahu pasti bahwa tidak akan ada yang puas.

Beralih ke media digital yang tidak mempunyai keterbatasan ruang simpan dan dimensi panjang lebar, kenapa e-paper harus didefinisikan sebagai fotokopi digital? Kenapa keterbatasan media cetak justru dipaksakan pada media digital?

Can we make it better?

Membuatnya jadi lebih baik bukan juga hal sepele. Ada beberapa hal dan kepentingan yang tersangkut dengan e-paper.

Yang pertama adalah user focus. Dua pengguna utama adalah advertiser dan pembaca. Keperluan advertiser bisa saja bertolak belakang dengan keinginan pembaca. Advertiser mungkin menginginkan navigasi yang meningkatkan impresi iklan sementara pengguna justru tidak menginginkan iklan. Pembaca lebih careless terhadap layout dan iklan namun lebih menghendaki informasi yang akurat dan pengayaan media.

Yang kedua adalah platform of choice. Mana yang akan diprioritaskan? Feature oriented berarti yang terpenting adalah memberi sebanyak mungkin fasilitas. Bahkan mungkin lebih mengarah ke setting new standard. Memilih teknologi baru bisa jadi salah satu strategi.

Atau ingin lebih cenderung ke jangkauan distribusi (reach)? Pemilihan prioritas ini berarti harus memakai teknologi yang sudah umum dan pasti dimiliki oleh semua orang. Flash, Javascript dan HTML 5 bisa jadi pilihan platform. HTML 5 memang belum sepenuhnya didukung semua browser. Namun dari kecenderungan yang terlihat tampaknya HTML 5 tidak akan mengalami penolakan oleh pengguna internet. Justru HTML 5 menjadi hal yang dinanti karena akan bisa menjawab kesulitan yang selama ini sering dijumpai dalam pengembangan aplikasi web.

Dua orientasi di atas akan menentukan kompleksitas proses digitalisasi media cetak. Dan tentu saja perhitungan biayanya juga pasti akan berbeda.

Jadi, sebaiknya e-paper ini didefinisikan sebagai pengalaman web yang di-enhance atau cetakan digital yang sama persis dengan edisi cetak?

Tes Tiga Puluh Detik

Tes Tiga Puluh Detik

Test

Beberapa waktu lalu kita pernah ngobrol tentang bagaimana persepsi Paul Graham tentang startup. Kemudian kita juga membahas bagaimana cara menvalidasi ide startup. Keduanya memiliki persamaan dalam hal besarnya pengaruh komitmen sebagai faktor penentu keberhasilan. Bahkan Seth Godin dalam Tribes juga menyinggung pentingnya komitmen dalam rangka memulai Tribes.

Kali ini kita kembali ke ide startup. Bagaimana kita mengukur tingkat keberhasilan ide tersebut, selain lewat komitmen dan “make something people want”. Ini adalah tes tiga puluh detik!

Dalam 30 detik, apakah pengguna kira-kira sudah dapat mengetahui manfaat layanan Anda? Idea Anda harus memperhitungkan bagaimana cara memberitahukan manfaat penawaran Anda dalam waktu sesingkat mungkin, Ada banyak sekali layanan lain yang menunggu dicoba oleh pengguna. Jika dalam 30 detik layanan tersebut belum terlihat manfaatnya, pengguna tak akan mau repot-repot mencari tahu. Kecuali Anda punya relasi khusus dengan pembaut aplikasi. Mungkin Anda akan spend ekstra waktu untuk mencari tahu apa yang sebenanrya ditawarkan.

Dalam 3 menit, Apakah pengguna masih memakai layanan Anda? Apakah mereka tidak mengeluh karena manfaat yang ditawarkan dihalang-halangi oleh proses-proses tak penting? Atau UI yang menyebalkan? Apakah pengguna justru menemukan manfaat lebih dari apa ayng sebenarnya ditawarkan? Di sini pengguna akan memutuskan, apakah dia akan invest lebih banyak waktu bagi aplikasi Anda.

Setelah 3 hari, apakah pengguna mau kembali ke situs Anda? Benarkah pengguna merasakan manfaat layanan Anda dan bukan euforia kesenangan atas hal baru?

Sebenarnya masih ada 3 zona aman lagi, yakni 3 minggu, 3 bulan dan 3 tahun. Tak perlu mensakralkan angka tiga, namun memang ada fase-fase yang harus dilewati oleh suatu layanan. Intervalnya bergeser dari waktu singkat ke jangka waktu yang lebih panjang. Dalam ide Anda, hal ini tentunya harus terpikirkan.

Mari kita baca dan resapi bersama-sama artikel lengkapnya di ReadWriteStart. Ada bagian menarik di akhir artikel tersebut tentang 4 jenis layanan/website dan karakteristiknya.

PS:

Dengan tes semacam ini, sepertinya kita akan lebih punya kontrol diri tentang bagaimana ide harus kita lengkapi sebelum dieksekusi. Dan bagaimana strategi deployment startup bisa disusun. Anda punya tes-tes serupa?

Efisiensi, di mana batasnya?

Efisiensi, di mana batasnya?

Cut That Out, Now!

Tentunya Anda masih ingat tentang gerakan hemat energi beberapa waktu lalu. Sosialisasinya demikian gencar, terutama ditekankan pada institusi pemerintah yang akan menjadi role model bagi masyarakat. Eksekusinya pun bervariasi. Ada gedung pemerintahan yangmasih terang benderang di malam hari, dan ada juga yang sedikit ekstrim sampai jalanan di depan kantornya pun gelap gulita. Keadaan ini tentunya tidak nyaman bagi pelintas jalan apalagi pejalan kaki karena memberikan rasa tidak aman (faktor tindak kejahatan).

Contoh lainnya. Jika Anda bepergian dengan transjakarta melalui trayek kampung melayu Ancol, maka Anda akan lebih banyak menjumpai Transjakarta dengan trayek PGC yang notabene tidak berhenti di Kampung Melayu. Dalam sekian puluh menit, hanya satu kendaraan saja yang bertrayek Kampung Melayu Ancol. Efeknya tentu saja terjadi penumpukan di halte Kampung Melayu. Setiap transjakarta yang lewat Kampung Melayu pun penuh sesak dengan penumpang. Tidak perlu ditanya seberapa bosan calon penumpang harus menunggu dan betapa tidak nyamannya berdesakan dalam Transjakarta.

Sebenarnya bagaimana sih kita harus menerapakan efisiensi? Efisiensi tentunya adalah sebuah program terencana. Ada faktor pemicu dan ada goal yang hendak dicapai.

Know your numbers

Apakah memang ada hal-hal yang tidak efisien? Apakah listrik menyala berlebihan. Apakah biaya untuk listrik melebihi anggaran? Apakah biaya pemakaian listrik tidak sebanding dengan output pemakaian? Solusi hal semacam ini tidak selalu harus dengan menghemat listrik. Bisa saja solusinya dipilih mengeefektifkan pemakaiannya yang lebih terkait dengan manajemen sumber daya manusia dan resource lain. Kecuali jika memang sedang ingin berhemat biaya. Angka-angka pemakaian dan seberapa besar ketidakefisienan yang terjadi harus diukur terlebih dahulu. Dari sinilah rencana efisiensi akan didasarkan.

Know what to improve

Setelah angka efisiensi didapat tentunya bisa dilihat dan diprioritaskan mana yang harus ditangani. Dan seberapa jauh efisiensi akan dilakukan. Apakah harus dengan mengurangi jumlah kendaraan secara ekstrim untuk trayek tertentu? Apakah termasuk memadamkan lampu penerangan jalan? Pertimbangannya tentu tidak terbatas pada menurunkan angka biaya operasi. Bisa saja operasional di-shutdown sama sekali. Tapi perlu dipikirkan juga efek samping dari upaya efisiensi ini. Bagaimana kepuasan customer bisa tetap dijaga? Bagaimana image “do no evil” bisa dipertahankan?

Sampai goal efisiensi bisa dicapai, proses yang akan dilalui adalah eksekusi program efisiensi dan benchmarking (pengukuran hasil). Untuk mencapai efisiensi tidak bisa diselesaikan dengan hit and run. Aktifitas efisiensi harus selalu dimonitor dan evaluasi untuk mencapai titik temu terbaik antara penurunan biaya operasional dan overall performance.

Bagaimana cara Anda dalam mengusahakan efisiensi?