Browsed by
Tag: TransCab

TransCab: Media Advertising Baru?

TransCab: Media Advertising Baru?

TransCab adalah armada taksi yang punya ciri khas memiliki fasilitas televisi bagi penumpang. Warna khasnya kuning dengan ornamen pola papan catur. Pemilihan warna ini cukup cerdik karena berhasil membedakan armada ini dengan armada BlueBird. Mungkin ini memang diniati untuk berbeda,dan tidak menjadi pengikut pemimpin pasar saat ini. Lalu, apakah yang menarik dibalik taksi dengan televisi ini?

Tebakan umum adalah televisi tersebut dipasang dengan tujuan memberikan fasilitas hiburan kepada penumpang. Apalagi di Jakarta yang sudah terkenal dengan kalimat kota yang menjadikan orang jadi tua di jalan. Televisi ini diharapkan bisa menghibur penumpang yang terjebak macet. Jika penumpang merasa tetap senang maka tak usah pikir panjang pasti mereka akan memilih taksi ini di lain waktu. Customer service rules!

Tebakan lain? Ini mungkin tahap awal pembuatan media advertising baru. Tentunya kita ingat dengan televisi yang terpasang di dekat elevator pada gedung-gedung tertentu yang menampilkan iklan. Atau televisi besar di perempatan jalan “milik” LA Light.

Media broadcast (televisi) mungkin dianggap makin kuno. Televisi mempunyai kelemahan fatal karena bergantung pada mercy dan generousity (kemurahan hati) penonton. Jika penonton tidak mau melihat, iklan pasti dilewatkan, channel dipindah, muka dipalingkan, dan lain-lain. Televisi di pinggir jalan beda karena bentuknya yang besar menarik mata pengguna jalan yang lewat. Apalagi ditaruh di perempatan lampu merah dimana pengguna jalan pasti sedang bosan menunggu dan mencari hal menarik untuk membunuh waktu.

Televisi dalam TransCab juga berbeda karena mau menjemput bola. Di tempat dimana audience tak terjangkau sebelumnya, kini bisa dijangkau karena ada televisi yang dipasang di sana. Fitur hiburan mungkin hanya sebagai sarana penarik audience untuk mendekati media advertising ini. Menarik untuk mendekati dan kemudian berinteraksi dengan strategi yang telah disusun pemilik media.

Apa saya berpikir terlalu positif? Istri saya mengeluh. Katanya dari dua dari tiga TransCab yang dijumpainya, semuanya suka ngebut. Keluhan ini mengingatkan kita kembali bahwa televisi bukanlah daya tarik utama bagi penumpang. Kenyamanan tetap nomor satu. Akan tetapi, kenyamanan plus televisi bisa berarti kenyamanan kuadrat, tidak kenyamanan kali dua.

Masih perlu dilihat juga bagaimana aksi TransCab selanjutnya. Strategi jemput bola memang menarik, tapi kita semua sudah tahu bahwa targetted ad itu jauh lebih efektif. Apakah TransCab nantinya bisa menerapkan model targetted ad? Televisi yang dipasang di gedung bisa memakai model targetted ad. Paling tidak dengan memasang iklan sesuai dengan mayoritas pengunjung atau penyewa ruang. Tapi bagaimana dengan taksi? Tidak ada yang menyaring penumpang. Biasanya bisa dipakai harga sebagai alat saring. Misalnya Silverbird. Tapi TransCab ini justru memasang tarif bawah (tarif lama, lebih murah).

Hmm, bagaimana menurut Anda? Anda punya tebakan lain tentang apa yang akan terjadi dengan TransCab?