Browsed by
Tag: twitter

Second Screen App

Second Screen App

Second screen app, adalah aplikasi yang terpasang di layar tambahan yang berfungsi untuk memberikan added-value atau pengalaman ekstra pada konten pada layar utama.

Xbox SmartGlass

SmartGlass, IntoNow adalah salah satu contohnya. Masih belum paham juga? :headdesk: Oke, lihat video ini sampai habis lalu baca paragraf berikutnya

Perlu Gitu?

Ya tergantung mau pakai contoh kasus yang mana. Nonton bioskop tentu saja tidak perlu pakai second screen app. Tapi konten seperti pertandingan, atau serial televisi, bisa ditemani second screen app. Apapun yang bisa disela, berarti bisa ditemani dan diperkaya dengan second screen app.
Sudah sejak lama kita nge-tweet sambil nonton TV kan? Well, Twitter bisa jadi second screen app juga. Tapi, yang saya maksud dengan second screen app bukan app semacam Twitter. It has to be something richer.

It’s no men’s land

Iya, belum ada definisi eksak tentang apa saja yang harus dipenuhi oleh aplikasi sehingga bisa disebut second screen app. Adalah tanah tak bertuan, sama dengan SmartTV atau teknologi Augmented Reality yang belum punya contoh ideal. Tidak ada aplikasi yang sepenuhnya memuaskan (breath-taking), namun dari beberapa aplikasi yang sudah muncul, ada beberapa elemen yang dominan. Mungkin ini akan jadi tren di masa depan.

Literally, A second screen.

Karena memang layar utama kurang besar atau kurang pas untuk ditempeli dengan perkakas tambahan, maka layar kedua diperlukan. XBOX SmartGlass dan WiiU (bisa) memisahkan kontrol/pengaturan tambahan ke layar kedua. Layar kedua menjadi remote plus plus.

It’s boring, but yes it needs to be social

Mantra lama, tapi memang “social” ini bisa dihajar-tempelkan ke apa saja. Tarik semua elemen social media dan social network ke dalam aplikasi layar kedua yang selalu up-to-date dengan layar pertama. Dicontohkan di IntoNow, kita bisa membincangkan apa saja tentang acara yang kita lihat di linimasa twitter.

Navigating on TV sucks!

Layar besar memang susah dinavigasi. Beberapa tahun ini kita tak pernah lupa untuk membawa/menggenggam gadget dalam semua aktivitas kita. Portable, tapi tidak bodoh seperti remote. Sudah sangat pas untuk menelusuri direktori informasi, kecuali mengkonsumsi media secara megah. Zeebox mengerti hal ini dan menempatkan dirinya sebagai nahkoda konten. GetGlue, Gomiso juga sebenarnya bisa masuk di kategori ini.

It’s not easy to make one. You don’t say?

Iya, pendekatan supaya aplikasinya jadi breath-taking itu rocket science (untuk ukuran saya). IntoNow misalnya bisa mengenali acara hanya dari gambar (dan suara). Tapi tak harus terpaku di rocket science. Seamless memang keren, tapi value layar kedua ini bisa dieksplorasi lebih dominan daripada integrasinya. Bagian seamless itu lama-lama juga pasti jadi pustaka sumber terbuka. Percaya deh.

Epilog

So, yang masih bergelora bikin startup tapi kehabisan ide atau malas ikut komunitas merk gadget, bisa mencoba tantangan ini. Yang ngangur dan tak tahu lagi mau ngapain di internet juga bisa koding untuk mencari jawaban soal second screen app ini. Yakin, yang gatal bukan saya saja.

Social Media App No More

Social Media App No More

Dilepasnya 18 orang pegawai Seesmic memberikan sinyal yang cukup kuat. Bahwa model bisnis social media client app itu antara susah dan tidak ada. Walaupun basis penggunanya besar, profitnya sangat susah untuk diperoleh. Mengolah konten 140 karakter menjadi revenue pun juga susah dilakukan. Tidak banyak yang bisa memberikan nilai tambah pada pemakai aplikasi tersebut. List, mute, search, that’s it. Ada juga yang mencoba berbeda seperti aplikasi Bottlenose. Yang memberikan konteks pada lini masa. Berharap menjadi nilai tambah dari sekedar melihat dan membaca.

Kenapa Iklan Tidak Berjalan?

Yang lain, surut. Dibeli AOL (Brizzly), pindah kuadran ke pay-only a.k.a enterprise (CoTweet) atau mengambang “menunggu keberuntungan” sebelum kehabisan napas. Model bisnis default biasanya adalah iklan. Namun sampai sekian tahun tak seorangpun bisa menemukan bentuk iklan yang tepat untuk lini masa. Pernahkan Anda melihat twitter client dengan iklan? Saya tak bisa mengingat.

Seharusnya nilai pasang iklan di aplikasi seperti ini bisa sangat tinggi karena aplikasi selalu dibuka dan kerap di baca. Apa karena linimasa terlalu cepat untuk dianalisa? Tidak juga karena bisa disampling. Atau karena sudah terbukti konversinya kecil?

In stream app memang pelik, tapi model iklan tradisional tetap bisa dipakai. Sesuai policy twitter:

You may advertise in close proximity to the Twitter timeline (e.g., banner ads above or below timeline), but there must be a clear separation between Twitter content and your advertisements.

Why? Lebih ke persoalan teknis atau legal terms (dengan Ad network)?

App on App

App on App adalah salah satu cara memonetasi data dan pengguna. Karena seringkali orang lain punya ide yang lebih cerdas dari kita. Karena kita tidak tahu apa saja yang dibutuhkan pengguna. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Crowdsourcing growth, dan kalau bisa crowdsourcing revenue <insert grin here>.

Ingat OneForty? OneForty dulu berniat menjadi app marketplace untuk Twitter. Sekarang sudah pivot ke bisnis enterprise dengan pitch: Social Business Hub.

We’re a buyers’ guide for businesses who want to invest wisely in doing social right.

Saya sedang mencoba membaca pitch itu lagi dan lagi, tidak mengerti juga. Seharusnya App on App itu bisnis yang mudah karena kita hanya menyediakan platform lalu memanggil developer untuk mengisi marketplace. Tapi bagian rumitnya adalah proses memanggil developer ke dalam ekosistem kita. Hint: Playbook.

What’s for the future?

Apakah akan terjadi konvergensi ke model enterprise? Kalau iya, kasihan pengguna non enterprise. Walau sering susah disuruh bayar, pengguna non enterprise adalah motor inovasi. Bayarnya tidak pakai uang, tapi dengan kerelaan menjadi kelinci percobaan atau menjadi hype machine. Banyak yang sudah berinvestasi waktu dan komitmen untuk memakai satu aplikasi tertentu namun di kemudian hari ditinggalkan karena aplikasi terkait banting setir ke model bisnis enterprise.

Perlu iterasi kembali bagaimana supaya sekian juta pengguna gratisan ini bisa dimonetisasi. Attention economy is just a fad at the moment. It falls on your L of P/L. On server billing and development cost that never stop.

Sebentar lagi, mungkin akan muncul paradigma: Money-first development. Sudah ada tanda-tanda dengan maraknya twit: bangun bisnis, bukan startup.

PS:

Bottlenose tahu, yang berharga bagi Anda adalah waktu.

Photo by joodi
Health Startup: MeetDoctor

Health Startup: MeetDoctor

Dunia kesehatan jarang punya start up. Pertama, mungkin karena pelakunya agak jauh dari hiruk pikuk IT atau bisnis IT. Kedua, orang non IT belum terpikir bagaimana mencari duit dari dokter-dokter yang sudah punya pendapatan tersendiri. Bukannya nambah pendapatan malah cuma nambah kerjaan.

Di luar negeri sih sebenarnya banyak startup di bidang kesehatan. Termasuk salah satunya adalah 23andme.com milik Anne Wojckiki (istri Sergey Brin). 23andme menyediakan layanan analisa DNA, monthly. Bagi saya, ini sudah berskala Google. Very serious. Yang lain masih banyak, seperti yang bisa dilihat di gambar di atas.

Di dalam negeri, saya baru menemukan beberapa saja misalnya: klikdokter.com, tanyadokter.com dan yang baru rilis beberapa waktu lalu yakni MeetDoctor.com. Dari model bisnisnya, sekilas semua masih berbentuk portal dengan tambahan rubrik konsultasi. Tidak ada yang salah, cuma apa memang tidak ada bentuk lain lagi?

Privacy issue

Mungkin membuat startup di bidang kesehatan ini serba beresiko. Setidaknya ada masalah privasi yang harus dilindungi. Sebelum dilindungi, prioritas pertama harusnya diedukasi. Dengan Facebook dan Twitter saja, banyak orang yang tidak paham bahwa semua yang mereka tulis akan terbaca oleh seluruh warga dunia. Beragam fakta dan peristiwa menjadi konsumsi publik. Isu kesehatan tentunya punya dampak tersendiri jika disebar bebas. Mungkin bisa membahayakan kelangsungan hidup seseorang secara tidak langsung. Pekerjaan bisa terancam, pertemanan bisa terganggu. Bukan karena kesehatan itu sendiri namun akibat tak langsung yang terjadi akibat persepsi orang lain yang tak ada relasinya dengan profesionalitas. Some information best kept secret (except with your doctor or psychiatrist, maybe)

Media offline tampaknya sudah paham perihal privasi ini. Setidaknya terbukti dari penyamaran nama dalam rubrik konsultasi. Meetdoctor sendiri mendukung pendaftaran lewat Facebook. Secara teknis akan meningkatkan user-friendliness, tapi di sisi lain jadi pengancam isu privasi. Dilematis karena tanpa nama asli, opini seseorang pun bisa terdistorsi.

Whom to trust

Kenapa user dengan nama “Bocah Ingusan” menjawab pertanyaan konsultasi saya? Apakah jawabannya valid? My life is on the line here. Buat anak kok coba-coba? Yang bener nih bro?. Beberapa kalimat barusan adalah gambaran komentar saudara yang saya minta melihat meetdoctor.com

User generated content, crowdsourcing, bukannya tak beresiko. Untuk memanen hasilnya diperlukan terpenuhinya suatu kuota. Dan ada formula yang harus dipakai untuk membuat kesimpulan, walau berbentuk sekedar rumus rata-rata. Jelas, untuk diskusi atau konsultasi tentang kesehatan juga memerlukan rumus tersendiri. Kita tak langsung menganggap jawaban pertama sebagai jawaban yang benar. Kita harus melihat pengalaman lain dan akhirnya berusaha menarik kesimpulan dengan menambahkan pengalaman kita sendiri. You see, it’s not easy.

Tanpa ada orang yang dipercaya, dikenal dan bisa dibuktikan keahliannya secara sistematis, maka meetdoctor dan juga rubrik konsultasi lain akan berhadapan dengan masalah trust.

What’s in it for the doctors?

Lalu dokternya dapat apa? Bukan hal yang bakal jadi perhatian pemakainya, tapi bakal menentukan kelangsungan hidup startup karena dokter adalah kata kunci dan produk utama di meetdoctor. Mungkin ada fee untuk planned appointment, tapi entah apakah sepadan dengan pendapatan lewat praktik offline 😀

Mungkin pengalaman offline/online ini bisa dibuat seamless. Konsultasi offline bisa dibawa online? Dan konsultasi online bisa dibawa offline? I wonder where the price will settle.

Personalization

Berita saja harus dipersonalisasi untuk menambahkan value. Apalagi dengan situs yang mengambil informasi dari interaksi penggunanya. Meetdoctor is clearly need to work more on it. Saat ini baru tersedia Activity yang mendaftar pertanyaan mana yang mendapatkan interaksi (dijawab oleh dokter atau pengguna lain). Mungkin akan lebih berguna jika diimplementasikan seperti conversation point. Saya cukup yakin tujuan awalnya adalah menvisualisasikan tanya jawab.

Situs-situs jaman dulu biasanya suka menanyakan hobi kita. Seperti hal ini bisa diadopsi oleh meetdoctor untuk memberikan news stream ke dashboard pengguna. Alih-alih mengarahkan user untuk join grup tertentu. Masalahnya bukan soal merepotkan pengguna, tapi informasi yang relevan belum tentu masuk dalam grup yang dikira. Informasi relevan bisa tersebar, mungkin dalam topik OOT sebuah thread konsultasi. Bagaimana pengguna bisa tahu informasi yang terselip semacam ini? Jawabannya satu: semantik.

So?

Cobalah berpartisipasi. Karena gratis, there’s nothing to lose untuk mencari informasi tentang topik kesehatan. Mari kita pantau, akan berevolusi seperti apa meetdoctor.com ini. Semakin niche atau menjadi portal? Karena founder-nya adalah seorang dokter dan ngeh dengan dunia IT, potensi yang terpendam masih besar.

PS:

Satu hal yang mengganggu saya. Ada dropdown kategori di form konsultasi. How the hell should I know which category my question belongs? Akhirnya, banyak tuh yang masuk kategori ADHD :D. My advice: Scrap it! Let the machine do this dirty work.

Bunuh Browser, Hidupkan HTML 5?

Bunuh Browser, Hidupkan HTML 5?

Ada artikel menarik di GigaOm tentang pertarungan native app dan HTML 5. Ternyata dari studi yang dilakukan oleh Flurry, native app lebih sering dipakai daripada web app (HTML 5). Lagak-lagaknya, kita mungkin over optimis dengan HTML 5. Jumlah aplikasi yang ada saja jauh lebih sedikit dari pada native app. Padahal sifat HTML 5 ini sudah benar-benar cross platform. Tanya kenapa?

HTML 5 itu Susah?

Ah yang benar? Bukannya membuat web itu gampang? Well, relatif gampang. Yang jelas, banyak yang bisa membuat web bagus dan mengundang decak kagum. Teknologinya bisa agak dinomorduakan, yang penting desain dan pengalaman buat user dulu. Banyak native app yang menyediakan fungsi sederhana, beberapa malah membuat ulang aplikasi jaman PDA dan J2MEyang notabene bukan aplikasi kompleks. Still, masih lebih laku native app.

Gak Ada App Market untuk HTML 5

Ya antara betul dan ngibul. Chrome appstore tak menolak aplikasi sejenis launcher. Mozilla malah punya inisiatif untuk membuat webstore yang bersifat open. Dulu, kita malah sudah punya oneforty walau terbatas hanya untuk Twitter. Tapi tidak ada yang take off. Paling gampang sih kita salahkan sedikitnya jumlah aplikasi. Gak ada aplikasi buat apa ada pasar?

Susah Dimonetisasi?

Ah, bo’ong lu. Web itu sudah ada sejak dulu. Dan e-commerce pun lahir di web. Metode pembayaran paling banyak ya di web. Tinggal pasang tombol Paypal. Kalau mau usaha dikit baru deh implement API supaya tercipta pengalaman yang lebih “seamless”. Yang nge-blend.

Segala peluang model monetisasi di native app bisa dilakukan di web. Mulai dari aktivitas standar beli konten sampai tren masa kini: in-app purchase, bisa juga diterapkan di web. Sifat platform web yang lebih cenderung fleksibel, mudah diupdate, membuat produk di platform web punya potensi untuk selalu kompetitif di sisi bisnis. Sekarang beli besok gratis juga bisa kali. Kurang apa?

Si Browser Brengsek

Bukan, saya tidak membicarakan satu dua browser tertentu, walau memang ada pengaruhnya juga karena cross platform-nya jadi dent di satu sisi. Tapi jaman sekarang semua sudah tahu pentingnya web. Jika browser-nya tidak up-to-date kemungkinan besar service provider tidak bakal mendukungnya. Kontrol platform ada di tangan service provider. Phew.

Kenapa saya sebut browser brengsek? Well, karena penyebab HTML 5 tidak kunjung take off adalah browser itu sendiri. Bukan soal support teknologi, tapi soal chrome/UI-nya. It doesn’t feel app-y. It’s too big?

Lama-lama, tab yang kita puja-puja — karena melepaskan kita dari kekang multi-window — kini serasa mencekik kita kembali. Munculnya smartphone membuat tampilan web di monitor laptop/desktop kita jadi pembuat dosa besar. Tidak maksimal dalam pemanfaatan layar. Terlalu banyak elemen tak penting. Tidak app-y.

Mungkin si browser brengsek ini terlalu lebar, terlalu bebas, terlalu fleksibel, terlalu terbuka. Kurang batasan supaya para pembuat produk jadi lebih kreatif. Perspektif harus diubah. Kelebihan adalah keterbatasan.

Apeu.

Blogging is Dead, Yet Again

Blogging is Dead, Yet Again

Halaah, blogging itu punya berapa nyawa sih. Dulu dibilang sudah mati, beberapa waktu lalu mati lagi. Sekarang mau mati lagi?

Kematian Pertama

Facebook memberikan tusukan kematian yang pertama. Notes, membuat kegiatan menulis apapun jadi menyenangkan karena kita bisa langsung pamer dan memaksa teman-teman kita di Facebook untuk membaca. Aku tag kamu di artikelku. Kamu gak bisa marah. Remove saja dari tag ngapain repot.

Aktivitas lain seperti update status dan upload foto menjadi penyerap energi. Tidak ada lagi waktu untuk ngopi, merenung, menganalisa dan menarik garis antar titik sebagai rangkaian kegiatan blogging. Why so serious?

Kematian Kedua

Blogging lalu dibunuh kembali oleh Twitter. Akibat Twitter, lebih banyak lagi orang yang malas menulis di blog. Jauh lebih sederhana untuk menulis 140 karakter di Twitter.

Tidak ada lagi cibiran akibat menulis sesuatu yang “gak jelas” di blog kita. “Aku tadi makan siang ketoprak enak banget”. Tidak ada yang protes akibat RSS readernya terupdate terlalu cepat dengan one-liner. Plus model networkingnya yang lebih simpel dari Facebook, Twitter is way wider and fun to play with. The rule is no rule, kecuali soal reply dan RT di Indonesia 😉

Kematian Ketiga (Voodoo Death)

Steve Rubel dua tahun lalu meninggalkan blog di domainnya dan beralih ke Posterous. Tren baru saat itu adalah Lifestreaming. Dan platform blog yang sudah populer pun belum ada yang cocok untuk memenuhi kebutuhan lifestream.

Per Memorial Day kemarin, Steve Rubel pindah kembali. Kali ini dengan sebuah big bang. Pindah ke Tumblr dan menghapus 2 blog lamanya (scorched earth policy – teknik bumi hangus). OMG! Steve Rubel (of Edelman) menganggap page rank sudah lewat masa. Google is into social signal, ditandai dengan fitur baru di search result yang melibatkan circle of friends. Dan yang terbaru, Google Plus One. Dalam rangka tidak membuat Google bingung, blog lama pun dihapus.

Tumblr dinilai lebih cocok dengan visi Google ke depan karena fitur social sudah built in di dalamnya, eg: reblog. Tidak hanya Steve Rubel. Beberapa orang juga pindah dengan alasan serupa. Kevin Marks bilang ini Voodoo SEO.

Blog Never Die

Mirip kata @danrem soal marketing dalam insiden RestInPeaceSoon. Marketing tidak mati tapi bertransformasi. Esensi tidak berubah tapi ada temuan baru yang menjelaskan lebih lanjut tentang esensi mendasarnya. Seperti halnya blogging, esensinya bukan tentang menulis.

Esensinya adalah berbagi. Media saat itu yang paling ekonomis adalah tulisan. Ramah benwit sehingga idenya bisa menyebar dan diterima banyak orang. Podcast juga bentuk lain dari blogging,esensinya adalah sharing namun bermedia audio. It didn’t take off as successful as blogging karena medianya kurang ramah terhadap banyak orang.

A blog is a web log. Tentang catatan dan gagasan yang kita bagi lewat web. Tidak pernah mati.

Rebirth

Terlepas dari mati tidaknya blogging, ada pertanyaan menarik yang muncul. Domain. Domain dulu kita isi dengan blog. Sebagian bilang untuk bersenang-senang, sisanya bilang untuk personal branding. Tapi ini long time ago, sebelum ada twitter dan facebook yang membuat orang sempat beralis ke lifestream. Dan sebelum ada about.me untuk memajang kartu nama.

Dengan bergesernya media untuk berbagi, posisi domain ada di mana? Apakah tetap sebagai identitas ataukah jadi sekedar tempat untuk entry point sebuah layanan? Any takers?

Define Differentiation

Define Differentiation

Diferensiasi, inilah yang dicari banyak orang. Apalagi jika sudah masuk ke arus mainstream. Everybody is on the same page, heading the same direction, on the same boat. Diferensiasi adalah langkah yang akan dia tempuh untuk menuju titik akhir sebagai yang pertama. Ada yang terjun dengan pelampung. Ada yang mendayung kano penyelamat. Ada yang menikmati kapal seolah sedang tamasya. Diferensiasi adalah apa yang kita yakini sebagai perangkat terbaik untuk mencapai tujuan kita.

Differentiation is Doing The Impossible!

Contoh termudah, Zappos. Menggratiskan biaya kirim termasuk jika pelanggan kurang puas dan inign menukar barang adalah tindakan bodoh dan gila. Menarik tapi beresiko tinggi karena bisa saja pelanggan melakukan gaming pada sistem. Bukannya revenue yang didapat malah tekor ongkos kirim tiap hari. Itis insane and impossible to do, yet they pull it out.

Melakukan hal yang mustahil (dilakukan oleh orang lain) adalah apa yang membuat kita berbeda dan unggul. Dan cara mencari pembeda ini pun sangat mudah. Tanya saja apa yang tak mungkin dilakukan orang dalam memberikan suatu layanan? All you can eat dulu mungkin ide gila, tapi jadi strategi umum saat ini.

Differentiation is Owning A Huge Valuation

Screw revenue! Screw profit! We will hit IPO. Sean Parker mengajarkan pada Zuckerberg untuk tidak cepat puas. Jangan berhenti pada angka jutaan karena sebenarnya kita bisa mencapai angka 12 digit. Menarget valuasi tinggi berarti menjadi raksasa yang menjadi magnet bagi investor. You eat, a lot and focus on one thing: getting bigger. So big that you become a plate people eat on. Menjadi Facebook dan Twitter yang begitu besar dan menjadi platform kebergantungan pihak-pihak lain. Revenue dan profit? Itu soal membalik telapak tangan. Every inch of your body is a seed of revenue and profit.

Differentiation is Having the Longest Breathe

Tiap jenis layanan tidak selalu beranalogi dengan sprint tapi kadang kala justru mirip maraton. You don’t need to win every corner but you need to arrive first at the REAL finish line.

Hal yang cukup njlimet di sini adalah menentukan finish line mana yang bakal Anda anut? 1 tahun? 5 tahun?10 juta pengguna? Di fase mana Anda harus menghemat napas dan di tikungan mana Anda mulai sprint.

Bagaimana menurut Anda? Apa yang Anda sebut sebagai diferensiasi?

PS:
Sebenarnya, saya lebih cenderung ke nomor 1. Sisanya adalah penjabaran dan detil poin tersebut. Setuju?

All Works No Play Makes Jack A Dumb Boy

All Works No Play Makes Jack A Dumb Boy

Kali pertama yang dicari-cari orang dari sebuah layanan tentu saja fitur. Orang datang karena dia punya masalah dan pain point yang hendak diselesaikan. Semua layanan akan dipilah dan dinilai kecocokannya berdasar kelengkapan fitur, antarmuka (dan mungkin harga). Akhirnya seseorang pun bisa settle dengan sebuah layanan.

Lalu  seseorang tersebut menjadi bosan. All works no play makes Jack a dumb boy. Kita ingin yang kita kerjakan juga memberikan kesenangan. Kita bosan jika berhadapan dengan satu hal terus menerus tanpa ada perubahan.

Mari kita lihat beberapa situs besar dan apa gameplay-nya

Facebook

Apakah Anda masih memakai Facebook? Facebook bukanlah layanan yang menyenangkan jika hanya berwujud buku tahunan online. Tambahkan status dan kemampuan untuk berkomentar. Berbagai foto dan tag teman-teman kita. Like sebuah foto atau notes, dan terima like dari teman-teman kita. Itulah game yang ada di Facebook (terlepas dari game yang ada di apps). Tanpa hal-hal tersebut kita mungkin tak pernah menengok Facebook kembali.

Twitter

Twitter hampir tak punya game element. Hanya ada follower, following serta mention. Karena itu sebenarnya menggunakan Twitter itu cukup susah karena alternatif aktivitasnya sangat sedikit. Kita harus jadi insightful, lucu atau persona-persona lain supaya mendapat mention dan di-follow.

Gameplay di Twitter justru disediakan oleh pihak ketiga. Layanan semacam Klout, PeerIndex menghitung score pencapaian kita dalam dunia Twitter. Melihat angka tersebut seorang pengguna bisa melihat posisi-nya di antara peer dalam kelompoknya. Angka ini memberikan dorongan bagi pengguna untuk mengeluarkan twit-twit dengan ‘aturan’ tertentu dalam rangka mencapai score yang diinginkan. Mau jadi apa? Punya authority di topik mana?

GetGlue

Bagi produk yang berkaitan dengan semantik seperti GetGlue, gameplay punya peranan yang teramat penting. Nilai produk semacam ini tidak bisa langsung muncul. Ada fase pembelajaran yang harus dijalani supaya produk tersebut bisa memahami preferensi kita dan kemudian akhirnya memberikan rekomendasi. Tapi gameplay yang tepat pengguna bisa bosan sebelum menerima manfaat layanan.

Penutup

Gameplay adalah must-have element dalam produk kita. Namun prioritas utama harus tetap berfokus pada pain-point. Beberapa startup lokal juga sudah punya gameplay, misal Urbanesia dengan UrPoint.

Punya startup? Apa gameplay-mu?
Ping. Get It?

Ping. Get It?

Apakah Apple berpikir bahwa Apple bisa menyalin strategi Facebook? Apakah ini bukti pengakuan Apple atas dominasi Facebook? Kenapa dibuat social network di atas iTunes? Apakah Apple punya Social DNA?

Social DNA

Pertanyaan yang sering muncul beberapa waktu lalu sampai sekarang adalah: apakah Google punya social DNA? Google tak pernah sukses membuat produk berbasis social network. Orkut memang tidak dimatikan, tapi juga tidak sukses di secara global. Kecuali di Brazil. Google Buzz juga tak menuai sukses. Yang muncul justru isu privacy akibat Google “terlalu pintar” dalam menghubungkan pengguna-penggunanya secara otomatis sebagai teman. Yang masih kita tunggu adalah Google Me — sebuah usaha lain dari Google untuk masuk ke pasar social network. Dengan pendekatannya yang selalu scientific, aneh juga kenapa produkya tidak take off. Mungkin karena misleading numbers.

Here Comes $APPL

Baru saja, Apple merilis produk-produk baru terkait musik (dan hiburan). iPod Nano baru yang berbentuk iPod shuffle dengan multitouch. Mengingatkan saya dengan produk-produk Google: amazing but not necessarily useful (hint: Wave). Apple TV yang seperempat lebih kecil dari generasi sebelumnya, tampaknya tak ingin melewatkan gelombang set top box 2.0 yang tampak jelas akan ditunggangi oleh Google, Boxee, dll. Dan yang sama sekali baru: Ping. Social network yang dibangun di atas iTunes. Mencoba memberikan value baru lewat mengikuti update dari artis dan teman-teman seputar musik. Tujuan akhirnya tetap diarahkan ke sales dengan jalan menempatkan tombol buy di semua sudut yang memungkinkan.

Is it Facebook or Is It Last.fm?

UI dari Ping (kata orang) tampak seperti peranakan dari Twitter dan Facebook. Pengguna bisa melakukan follow dan menerima updates. Jika Anda bertanya apa lagi fiturnya, saya tak bisa menjawab karena mungkin hanya (sebegitu fokus) itu fiturnya. Apakah Anda bingung siapa yang hendak dihajar Apple kali ini? Facebook atau Last.fm? Atau seperti kemunculan iPad? Bahwa Apple berusaha fill in the gap? Last.fm kurang social dan Facebook tidak menggubris musik. Beberapa orang meragukan bahwa Ping adalah platform yang benar-benar ditujukan ke social network. Sebagian melihat ini hanya strategi sales saja. Saya lebih setuju yang terakhir.

Menurutmu, kenapa Apple tak membeli Last.fm saja? Siapa saja sih perusahaan yang mempunyai Social DNA?

Lagi-Lagi Agregator

Lagi-Lagi Agregator

Masih, saya masih menyimpan ide agregator untuk blog sejak beberapa tahun lalu. Dulu mencari sumber berita itu susah akibat  tidak sempat mengeksplorasi seluruh internet dalam kapasitas terbatas kita. Jadi mengumpulkan beberapa blog atau penerbit berita lain dalam satu website itu tergolong masih punya value tinggi. Tidak seperti sekarang, adanya Twitter menyebabkan proses penemuan sumber berita menjadi lebih mudah. Tak perlu mencari bahkan, berita akan dihantarkan langsung di depan kita. Kita tinggal pilih mana yang menarik, klik dan kemudian membacanya.

Keep On Piling

Kita kita cukup savvy dengan teknologi dan menjadi fans berat RSS, sumber berita tersebut bisa dimasukkan ke dalam feed reader. Hanya perlu beberapa kali bertemu dengan sumber berita menarik yang sama sehingga kita yakin untuk menjadikannya salah satu sumber informasi dalam koran pribadi kita (feed reader). Proses mengumpulkan informasi ini terus berlangsung sehingga agregator menjadi kehilangan fungsi. Tidak kehilangan fungsi, tapi mengalami masalah karena faktor skala jumlah data.

Search, Don’t Sort.

Jika jumlah data terlalu banyak, opsi yang masuk akal adalah melakukan pencarian alih-alih menelusuri data satu per satu guna menemukan apa yang ingin kita akses. Die grid die. Die list die. Karena inilah GMail lebih cocok bagi kita. Jika data sudah menumpuk maka akan diperlukan fitur tambahan untuk mengaksesnya.

Tasteful Topping

Di Twitter kita mengenal Retweet. Retweet adalah sarana menemukan jarum dalam tumpukan jerami.

Di Slashdot kita mengenal karma untuk artikel dan komentar. Komentar dengan karma kecil akan otomatis tidak ditampilkan by default.

Di situs macam Scriptlance atau GetAFrelancer, ada fitur rating bagi coder dan project owner.

PriceArea.com mengumpulkan berbagai informasi dari situs-situs e-commerce. Di atasnya ditambahkan fitur pencarian.

StackOverflow.com menjadi agregator pertanyaan teknis. Di dalamnya ditambahkan fitur vote untuk menandai jawaban yang paling manjur.

Banyak sekali layanan yang berbasis agregator. Perbedaannya hanya topping apa yang ditawarkan di atasnya. Topping inilah yang menjadi pemanis dan pembeda dari konsep agregasi yang diterapkan tiap-tiap layanan.

Coba sebutkan situs-situs lain yang basisnya agreagasi. Craiglist? Urbanesia? Autosally?

PS:

BTW, blog itu juga salah satu bentuk agregasi lho. Tinggal pilih topping untuk membuatnya beda dengan yang lain. I don’t intend to make this aggregating things sound easy, but it is somewhere we can start from 😉

Foto oleh Herman Saksono

Google Has It All, But

Google Has It All, But

Saya bukan orang yang sangat up to date soal gadget. Well, saya baca beritanya tapi kalau soal experiencing the real device itu lain cerita. Ketelatan saya ini juga berlaku untuk Google Latitude, baru belakangan ini saya bisa mencoba karena ada gadget agak pintar yang bisa dimuati Google Latitude. Apakah Google Latitude sangat mengagumkan?

Untuk gadget yang tidak punya GPS, Google Latitude masih bisa berjalan dengan cukup baik. Tergantung kartu telco yang Anda pilih, posisi realtime bisa diplot dengan presisi lumayan tinggi. Lebih banyak BTS, lebih besar presisi yang Anda dapat.

Google Latitude menjadi sebuah layer tambahan pada Google Map, selain layer satelite dan traffic view. Seperti layaknya Google Map di desktop, Anda bisa menjadi jalur mencapai tempat tertentu. Dan karena Google Latitude sudah mengetahui posiis realtime Anda, Anda bisa menggunakannya sebagai titik awal untuk mencapai suatu tempat. Dan karena posisi kita bisa terupdate secara realtime, Google Latitude ini bisa dipakai seperti perangkat GPS untuk navigasi itu. That’s not all. Karena posisi teman-teman kita di Latitude juga terupdate secara realtime (by their choice), kita jadi mudah untuk mengatur kopdar.

Now, let’s visit Google latest rumour: Google Me. Apa sih yang bisa dilakukan Facebook tapi tidak bisa dilakukan Google? Apa yang bisa dilakukan Twitter yang tidak bisa dilakukan Google?

Latitude, by far is an awesome infrastructure for location based service. Google punya lebih dulu dari pada geolocation support dari Twitter. Google sudah punya petanya, informasi lalu lintass bahkan streetview. Untuk location based service, Google jauh lebih siap dari banyak nominasi yang lain.

Facebook stream? Friendfeed model is not a rocket science for Google (founder Friendfeed adalah jebolan Google). Walaupun Google sepertinya lebih tertarik ke masalah yang lebih pelik (mungkin karena Google cenderung selalu mengambil pendekatan akademis): realtime collaboration a.k.a Google Wave. Facebook Video, Google punya Youtube yang tiap iterasi tampak lebih menarik. Photos, Picasa tak terlalu tak terlalu populer tapi dekstop app-nya punya banyak kelebihan untuk masalah koleksi foto. Tambahan fitur face recognition beberapa waktu lalu di Picasa 3 jadi salah satu killer feature yang bisa banyak membantu kegiatan koleksi foto. Kita bisa punya virtual album berdasar wajah.

Apalagi yang diperlukan untuk social network? Network graph, Google punya social graph yang terintegrasi dengan layanan searchnya. Integrasi dengan layanan di luar Google juga tersedia lewat Buzz, albeit not much. Social graph ini juga menjadi lebih luas ketika pengguna melengkapi akun-akun social media dan social networknya di Google Profile.

Apa sih ya yang ditunggu Google? Mungkin Google sadar sekedar meniru Facebook tak akan memenangkan banyak orang. Mungkin Google masih menunggu saat yang tepat dan tiba-tiba: BOOM! Semua layanan Google yang sekarang tercerai berai di pelbagai segmen mulai terintegrasi satu persatu membentuk Google World. Google Me, all of google prop for me.

Punya bahan masak yang langka membuat koki punya dua pilihan. Pertama, memakai resep sama untuk membuat masakan dengan bahan terbaik demi memunculkan citarasa baru. Atau kedua, membuat resep yang sama sekali baru.

Menurutmu Google pilih yang mana?