Browsed by
Tag: Web Application

Teloor.com: Situs Komunitas Resep Etnis

Teloor.com: Situs Komunitas Resep Etnis

teloorintro

Teloor.com adalah situs komunitas maya yang menyuguhkan resep makanan dari berbagai entis. Nama situsnya sendiri diambil dari keberadaan teloor telor sebagai bahan dasar yang bisa ditemui di berbagai makanan, dan dari berbagai daerah dan negara. Salah satu misi Teloor adalah mempromosikan kebudayaan kuliner dari masing-masing negara, termasuk Indonesia, untuk lebih dikenal di mata internasional. Dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia, budaya kuliner Indonesia masih jarang terdengar di manca negara, terutama Amerika. Paling mentok ya cuman satay!

Situs yang satu ini dikelola oleh dua orang Indonesia yang berdomisili di Chicago, yang kebetulan juga teman gosip saya untuk topik teknologi (dan investasi). Pada saat diperkenalan pertama kali di bulan Oktober 2008, Teloor mendapatkan kritikan keras akan tampilannya yang kurang menunjukkan cita rasa situs kuliner. Oleh karena itu sang pengelola, Ramin Surya dan Barry Simorangkir, memutuskan untuk merombak ulang tampilan Teloor, sekaligus merapikan alur penggunaan situs ini.

teloorabovethefold

Setelah beberapa bulan diobrak-abrik, Teloor kini telah selesai dengan proyek facelift-nya, dan hasilnya ternyata jauh lebih bersahabat. Above the fold, Teloor telah sukses menampilkan identitasnya dengan menampilkan gambar-gambar makanan, seperti umumnya sebuah situs kuliner. Satu yang bisa ditambahkan adalah memberi label asal usul resep makanan tersebut. Hal ini diharapkan bisa lebih menonjolkan Teloor sebagai situs resep yang menonjolkan etnis, seperti deskripsi awalnya.

Mencari Resep

Sebagai pengguna, naluri pertama adalah menggunakan fitur pencarian dengan kata kunci. Karena ini situs makanan, wajar saja bila kata kunci yang digunakan adalah bahan dasar, seperti ayam, teloor, atau mungkin nama-nama makanan umum seperti ayam panggang, atau lasagna.

alphabet

Alternatif kedua adalah menulusuri (browse) resep-resep yang sudah ada. Sayangnya metode penelusurannya menggunakan alphabet, yang tidak terlalu efisien untuk pencarian resep makanan. Sekali lagi, bila Teloor memang berusaha menonjolkan etnis, mengapa tidak menggunakan negara asal sebagai filter pencarian. Mungkin bisa juga dikombinasikan dengan filter bahan dasar makanan. Saya yakin cara ini lebih gampang untuk menemukan ayam panggang khas Indonesia.

Cara penyajian lain adalah menampilkan daftar resep yang paling sering dilihat atau disimpan oleh pengguna lain. Hasil kolaborasi dari aktifitas pengguna bisa digunakan untuk menentukan popularitas resep, yang nantinya bisa disuguhkan untuk meningkatkan pageview, seperti interestingness di Flickr.

Persiapan Memasak

Mari kita masak Jamaican Jerk Chicken! Satu yang mengganggu adalah avatar sang chef, yang prioritasnya terkesan lebih tinggi dari detil resep yang ditampilkan. Sekilas dari paragraf pertama, sangkaan saya adalah penjelasan tentang si chef, dan ternyata salah.

save

Ternyata ayam Jamaica-nya enak lho, coba simpan ah! Oops! Usability problem! Bila JavaScript pop-up sudah memberi konfirmasi, bagaimana dengan pengguna yang berkunjung kembali dan tidak yakin apakah resep tersebut sudah disimpan atau belum. ‘Recipe has been saved‘ seharusnya cukup informatif untuk mengatasi masalah ini, dan konfirmasi JavaScript bisa dihilangkan.

Untuk peninggalan komentar dan penilaian, alangkah baiknya tidak menggunakan modal box yang kesannya tidak terlihat. Satu kolom komentar tidak makan tempat terlalu banyak dan lebih ‘mengundang’.

Sumbang Resep

Untuk situs´┐Ż komunitas yang mengandalkan materi dari penggunanya (user-generated content), persentase kontribusi pengguna terbilang sangat kecil. Oleh karena itu halaman semacam penambah resep harus diusahakan untuk seoptimal mungkin.

form

Umumya para pengguna mengisi formulir dari atas ke bawah sesuai urutan. Tapi di bagian baris penambahan bahan dasar, formulir baru malah muncul di atas (setelah bahan ditambahkan). Selain itu informasi bahan belum disimpan di database, jadi tombol update tidak perlu ditampilkan.

Pernak Pernik

Secara keseluruhan Teloor terlihat bersih dengan navigasi yang mudah digunakan. Satu hal yang diterapkan adalah penggunaan foto-foto makanan sebagai ‘eye-candy‘ untuk meningkatkan pageview.

Sebagai komunitas maya, tantangan terberat adalah mengajak komunitas untuk berpartisipasi. Pengelola harus banyak bekerja keras mencari kuliner yang antusias dengan koleksi resep berjibun. Memberi semacam insentif bagi para chaef, baik dalam bentuk virtual (badges atau ranking), ataupun dalam bentuk nyata (hadiah), bisa banyak membantu pertumbuhan komunitas.

Di samping itu, juga perlu seorang evangelist yang mampu memimpin komunitas dengan memberi arahan, tip-tip memasak, atau informasi acara-acara kuliner. Format blog tampaknya cukup untuk memenuhi kepentingan ini.

Siap memasak?

—————————————————————————————-

Kontes Harian & Artikel Terbaik – Apa saja yang bisa diperbaiki dari Teloor.com?

Jangan lupa vote artikel ini di Lintas Berita yah!

Kebutuhan vs. Keinginan

Kebutuhan vs. Keinginan

neednwant

Beberapa hal yang dibutuhkan…

Saya butuh Google untuk membantu saya mencari informasi di internet hanya dengan serangkaian kata kunci.

Saya butuh WordPress untuk membangun blog ini secara cepat & irit.

Saya butuh Detik.com untuk mendapatkan informasi online paling cepat & aktual.

Saya butuh Facebook untuk berhubungan kembali dengan teman-teman lama, sembari menjalin persahabatan baru.

Saya butuh BlackBerry untuk berkomunikasi dengan teman & rekan di mana saja, kapan saja.

Beberapa hal yang diinginkan…

Saya ingin beli Apple iPhone 3G, karena keren banget layar sentuh-nya!

Saya ingin beli kaos karya designer terkenal, karena desainnya OK banget.

Saya ingin berlangganan RSS NavinoT, karena artikelnya menarik.

Saya ingin bergabung dengan Kaskus, karena ingin tahu gosip terbaru.

Saya ingin bergabung di Flickr, karena komunitas fotonya menarik sekali.

Dari sedikit perbandingan di atas bisa terlihat perbedaan antara keinginan dan kebutuhan. Sesuatu yang dibutuhkan terkesan begitu mendasar dan integral. Tanpa pikir panjang, produk atau layanan ini lebih mudah untuk diterima, bahkan mempunyai kemungkinan sukses yang lebih besar.

Lain halnya dengan beberapa contoh kalimat yang berdasarkan keinginan. Terlihat tidak terlalu penting, bisa dilewatkan, dan lebih berasal dari impulse. Tanpa barang atau layanan ini, sang pengguna/pembeli masih bisa bertahan hidup dengan fungsi awalnya.

Bila dilihat dari sederetan produk atau layanan web/teknologi yang selamat dari DotCom bubble, terlihat bahwa kehadiran mereka begitu mendasar. Seperti Google dengan mesin pencari-nya, meskipun revenue-nya berasal dari iklan sepenuhnya. Begitu juga dengan eBay yang menjadi pusat pedagangan bagi perseorangan yang selama ini kesusahan menjual barang-barang yang tidak diperlukan.

Bila diamati, suatu yang dibutuhkan cenderung mempunyai tingkat kesuksesan yang lebih tinggi, meskipun tidak mutlak. Banyak layanan web2.0 yang sangat keren, tapi tidak memenuhi kebutuhan dasar. Bahkan model bisnis saja tidak ada.

Hal ini juga dialami oleh Twitter diawal kehadirannya. Banyak yang menganggap berkomunikasi secara singkat dalam ukuran SMS tidak ada manfaatnya. Lambat laun, manfaat Twitter semakin terasa di dunia social media, bahkan banyak selebriti yang berpartisipasi. Kini Twitter dianggap mempunyai nilai lebih, bukan karena keren saja. Microblogging dibutuhkan untuk berkomunikasi secara singkat dan efisien.

Facebook? Bila semua teman sudah dikumpulkan, yang tersisa hanyalah permainan ala Mafia War. Inilah saat penentuan apakah Facebook benar-benar kebutuhan dasar kita di dunia maya.

Apa pendapatmu tentang Kebutuhan vs. Keinginan? Apakah Facebook & Twitter merupakan kebutuhan? Atau hanya tren sesaat? Apa aplikasi anda memenuhi kebutuhan?

NavinoT Best of Indonesia 2008

NavinoT Best of Indonesia 2008

Tahun 2009 sudah sangat dekat dalam hitungan hari. Tidak ada salahnya bila kita berhenti sejenak dan mengamati para petualang online yang masing-masing berjuang dengan aplikasinya. Dunia online memang masih terbilang muda untuk pasar Indonesia, oleh karena itu harap dimaklumi dengan segala kekurangannya. Karena kita semua juga saling belajar sambil meraba dunia maya ini.

Read More Read More

Yang Tersisa di Era Open Social

Yang Tersisa di Era Open Social

Tren data availability untuk web aplikasi, khususnya social networking, jadi semakin hangat dibicarakan. Selama ini Facebook dengan Developer Platform-nya termasuk pemimpin terdepan untuk urusan web platform dan Google tidak tinggal diam dengan inisiatif Open Social-nya. MySpace yang juga merupakan gabungan dari Open Social kini juga telah merilis MySpace ID. Apa yang akan terjadi dengan semua ini?

Read More Read More

20 Free Rich-Text Editors

20 Free Rich-Text Editors

Di jaman Web2.0 ini, mudah bagi siapa saja (pengguna) untuk menerbitkan suatu konten, baik berupa foto atau artikel. Sebagai pengembang piranti lunak, kegunaan Rich-Text Editor yang siap pakai dan bisa diandalkan tentunya sangat penting.

Berikut adalah 20 Rich-Text Editor gratis yang bisa anda gunakan di aplikasi anda di masa mendatang.

Nomor Satu Alasan Untuk Gagal

Nomor Satu Alasan Untuk Gagal

Banyak ide keluar dari segerombolan orang tentang aplikasi web, entah itu suatu inovasi dengan sederatan fitur baru, atau hanya sekedar tiruan dari belahan dunia atau bahkan tetangga sebelah. Inilah budaya teknologi informasi yang seharusnya penuh inovasi namun selalu terhambat oleh satu hal yang sangat menentukan masa depannya.

Read More Read More

NWMC: Dilema Invitation Only

NWMC: Dilema Invitation Only

Bagi pengamat aplikasi web tentunya sudah tidak lazim lagi dengan trik Invitation Only, yaitu tahap perkenalan yang inginnya berkesan eksklusif dan terbatas hanya untuk beberapa orang yang diundang saja. Sedangkan untuk seorang developer, untuk memasarkan suatu layanan/aplikasi sudah menjadi tujuan utama dari awal, tapi mengapa malah dibatasi untuk beberapa orang saja? Bukankah ini suatu dilema? Apa ada alasan lain dibalik strategi ini?

Read More Read More